Hidup pas-pasan

January 16, 2010

Abis ini  mo pergi makan burger. dan cuma punya waktu 15 menit aja buat ngetik postingan atau kalo  telat turun ke garasi, ntar ada yang ngambek dan ngomel. “Kenapa kok hobi barumu, nge-blog ini, jadi membuatmu lupa waktu?”

Tentunya kita tak ingin ada Oknum yang marah, bukan?

Oke, kemaren ada yang pesen kalung yang serupa ama yang dipakai Tante Farika pas dia arisan sama ibu-ibu dokter. Jadi si Tante-ku tersayang ini kan istrinya dokter spesialis ternama di Surabaya dan so pasti sebagai bagian dari kalangan sosialita, ikut arisan bersama ibu-ibu borju lainnya.

Kemaren beliau memakai kalung buatanku yang terbaru. baru bikin dan langsung diembat sama beliau. pas dipake, eh ada yang suka (si Nyonya Z) dan minta dibikinin 5 sekaligus dalam warana yang berbeda-beda tapi model serupa mirip-mirip.

woh, batinku, kalo satu kalung harganya 100 ribu (murah ya? gak ya? mahal ya?), kan alamat bakalan dapet 500 ribu! walo dampak dari si Nyonya Z pesen langsung 5 biji, temen-temen Tante Farika yang laen jadi males pesen, hehehe. kalo barangnya dikembarin kan bisa turun gengsinya ya bok?

anyway, setelah seharian membuatkan Nyonya Z kalung , lantas tiap kalungnya dikemas khusus dalam kotak cantik yang diberi pita beludru. CANTIK SEKALI, at least kemasannya sih :D Maaf ye, males foto-foto, takut kebanjiran pesanan, hehehe….

Minta diantar sesegera mungkin. Kalo bisa sehari jadi,beliau janji mo nambahin ongkos jalan 10% dr pesanan, woh ya meluntjur segera dong saya-nyaaaaa! duitttt, here i cooooomeee! :)

Tapi rumahnya jauh bok, di Graha Famili, duh mana nyasar kemana-mana pulak! ga bisa pinjem mobil suami coz lagi musim hujan, kasian kalo pulang kantor ntar dia kehujanan.

Nyampe dirumahnya Nyonya Z, jam 5 sore. Langit mendung! lekas-lekas  pencet bel. dan seorang wanita 40an dengan rambut kemerahan membuka pintu dan menyuruh saya masuk.

RUMAHNYA GEDAY YA BOK! bagus pulak interiornya ya ampuuunnn!   tak kuasa menahan diri, mata ini menyapu setiap sudut ruang tamu, duh bagus banget sih rumahnya. ah jadi gak sopan deh melototin perabotannya orang, tapi gimana dong? namanya juga orang udik, hehehe.

sebenarnya ini bukan kali pertama  dapat customer dari kalangan borjuis diarea Surabaya. tapi biasanya ga sampe masuk ruang tamu bok! diterima diluar pagar saja sama pembantunya. gak kliatan tu mukanya yang pesen kayak apa.

tapi customer kali ini sungguh berbeda. aku dipersilahkan masuk dan menunggu diruang tamu depan (ruang tamunya ada dua, depan sama dalem)(disuguhi es sirup di gelas yang baguuuus banget, plus kue-kue basah yang enaaaak sekali!) karena beliau masih nunggu dompetnya keselip ntah dimana dan para asisten rumah tangga masih mencari keseluruh penjuru rumah. wih, rumah segini gedenya? bisa-bisa ketemu besok tu dompet!

lagian, orang kaya kok ga punya persediaan uang kontan (rupiah) sih? yang ditaroh dibrankas gede, kayak di tipi-tipi itu! ah adanya stok kepingan emas sama dollar kali yak??

mata ini melirik langit diluar jendela yang semakin menggelap. akhirnya Nyonya Z pun menyerah karena kasihan kalo aku kudu naik motor ditengah mendung & terancam kehujanan. trus beliau meminjam uang jajan anak-anaknya (2 orang) yang kalo dikumpulin bisa pas 550 ribu.

widih, anak SMP punya uang cash 250 ribu per-orang dirumahnya? itu uang jajan lho! bukan uang dicelengan!

keluar dari rumah itu, aku tersenyum saja. dalam hati kepengen berdoa semoga di-usia yang ke-40 saya bisa punya rumah segeday itu. tapi ah, kayaknya secara mental kok aku ga cucok ya jadi orang SUOOOGEH alias kaya-raya?

hidup pas-pasan wae lah.

pas kepengen makan burger, ada yang mo nganterin.
pas butuh duit buat ngirimin Adek, eh ada yang pesen hasil karyaku (makasih Nyonya Z).
pas lagi pengen ngetik lebih panjang, eh itu udah ada yang tereak dari bawah!

oke got to go now! write again later :-*



Advertisements

Tante Antagonis

January 13, 2010

“Kamu itu mbok ya sekali-kali keluar rumah. Atau paling nggak ya keluar kamar! Kok sukanya di kamaaaaar terus! Apa nggak bosen to? Kuper kamu nanti! Sudahlah nggak kerja, nggak pernah keluar kamar,”

PLEASE DEH. It was 6 am in the morning and I have to listen to that woman, talking like that to me? Right in front of me? Oh dear God, I wish I could just disappear. Or let her stab me from the back, I dont care.

Fiuh… gini deh nasip-nya tinggal menumpang, belum bisa mandiri sendiri hidup berdua aja sama Suami.

Itu tadi pagi yang mengomel, adalah tante-nya Suamiku.  Tante Juwana, namanya. ‘Bulek’ kalo orang Jawa bilang. Adik dari Ibu Mertua.

Suamiku anak terakhir dari 5 bersaudara, dan sejak SMP memang sudah di-pek anak alias dianggep anak sama Tante-nya. Bapak-Ibu Mertua-ku tinggal di Kediri, sekitar 5 jam dari Surabaya. Dan Suami sudah tinggal bersama Tante-nya ini sejak dia SMP.

Sampai sekarang setelah menikah juga, Suamiku memutuskan untuk mengajakku tinggal disini karena kasihan sama Tante yang tinggal sendirian tanpa anak dan sudah ditinggal meninggal sama Oom sejak 5 tahun yang lalu.

“Aku ingin menikahi-mu, tapi aku ragu apakah kau mau tinggal denganku dan TANTE setelah kita menikah,” begitu kata Suami saat melamarku 3 tahun yang lalu.

Saat itu aku sudah beberapa kali bertemu Tante-nya, bahkan sebelum bertemu kedua orang-tuanya. Ya kan yang tinggal se-kota di Surabaya, Tante-nya saja.

“Wah Adam, cantik ya pacar-mu? Aduh Nak, kamu kok mau sih sama Adam? Dia ini item begini lho, hehehe,”

ini adalah kalimat manis yang pertama kali diucapkan Tante Juwana padaku. I was impressed with our first meeting at her house, demikian pula pertemuan kedua (makan siang bertiga di hari Minggu), dan pertemuan ketiga (saat mempersiapkan pernikahan, aku mengajak Tante ke JMP untuk memilihkan kain seragam untuk pihak keluarga calon Suami).

Ketiga pertemuan itu berjalan lancar. Ya mungkin karena pada saat itu paling lama kami hanya bersua 3-4 jam saja. Beda dong dengan setelah menikah yang tinggal bersama dirumah Tante.

“Jhanty, nggak apa-apa kan menemani Tante dirumah ini? Tolong ya Jhanty, Tante sudah nggak punya siapa-siapa lagi kecuali Adam di Surabaya ini,”

And I was like, OK. How bad can it be? Tante sosok orang tua yang menyenangkan. Beliau berselera dan berjiwa muda kok, mungkin karena bekerja sebagai Dosen jur. Ekonomi di sebuah PTS, membuat beliau senantiasa berinteraksi dengan anak muda.

Sebulan dua bulan tiga bulan, sampai enam bulan pertama sih tidak pernah ada masalah diantara kami bertiga. Begitu memasuki bulan ke-tujuh, wow mulai deh. Reseh-resehnya Tante Juwana keluaaaaarrrr semuaaaaaa!

“Ini lho Adam, istri-mu ini loh kok setiap pagi gak pernah keliatan bersih-bersih dirumah? Sampek malu tante, tiap pagi tante yang sapu teras dan halaman. Jadi bahan omongan tetangga, kenapa kok tante yang mengerjakan kerjaan seperti ini? Padahal tante masih harus berangkat mengajar jam 7 pagi,”

“Jhanty masakanmu ini lho, sudah kamu bumbui apa belum sih? Sudah kamu kasih garam belum? Rasanya kok anyep begini (anyep = hambar)? Apa sekarang seleranya Adam sudah berubah? Kok dia dulu setahu Tante suka sama masakan yang gurih?”

“Baju-mu itu loh Jhan, kok kayak gak pernah ganti? Itu-itu terus yang dipakai?? uang dari Suami-mu itu kamu pakai apa saja sih? Perhiasan ya gak nambah, tas-sepatu juga itu-itu saja?”

“Makanya kamu itu bekerja! Supaya tau kehidupan dunia luar itu seperti apa! Jangan ngendon saja dirumah! Apa kamu gak bosan? Tante saja setiap weekend bosan dirumah, inginnya lekas Senin supaya bisa ke Kampus lagi,”

dan seterusnya dan sebagainya.

Dulu sih hampir setiap hari aku menangis tiap habis diomelin. Sekarang walo masih saja jengkel setengah hidup, tapi sudah gak pernah mewek lagi. Capek!

Blast from the past!

January 7, 2010

:: SERANGAN MBAK BULU MATA PALSUUU! ::

attack of the ‘Miss Fake Eyelashes’

eyelashes

Ini cerita udah basi sih. asli. ibarat susu, udah jadi yoghurt kale’…! diketik dan tersimpan rapi di folder rahasia sejak beberapa bulan yang lalu. tapi ah ya sudahlah, daripada ga ada bahan postingan dan bahan gosipan (eh apasih?!)

ya udahlah nyeritain ini aja : asal muasalnya hidupku kembali direcokin oleh teman lama yang bernama Maura.

Sutos Surabaya

Sutos Surabaya

we met again, setelah terakhir kali bersua di our graduation-day. we met at the most happening mall at my city, these days > SUTOS (Surabaya Town Square. IYE CING, ini teh sodaraan ama CITOS- JKT).

Jadi ceritanya aku waktu itu, siang-siang mo ke salah satu butik disana. belanja? oh no…no… i was better than that. i used to supply handmade accessories to one of the boutiques there. later on, i’ll share you the detail lah.

pas abis nyetok barang, ya gak langsung pulang dong. nata barang dulu di display lah sambil ditemenin Tante Farika yang punya butik. pas lagi asik nata barang di manekin, ada seorang mbak-mbak wangiii banget lewat disampingku. Escada, Pacific Paradise.

beberapa menit kemudian, ada yang menepuk pundakku,

“Jhanty ya?” suara yang lumayan familar. aku pun berbalik badan dan ternyata dia adalah….

“Maura?” alisku terangkat melihat sosok mbak-mbak cantik dengan alis tipis dan riasan mata smokey-eyes, PLUS bulu mata palsunyaaa!

“Iya Jhan, ini gue!”

oh oke, it is HER. ga banyak temanku di Surabaya ini yang berbahasa lu-gue.

“Apa kabar? Duh kamu gendutan yaaaa?” terdengar excited saat menyebutkan kalimat terakhir.

“Eh iya nih, biasalah…. gendut kan lambang kebahagiaan, hehehe,” elakku halus.

“Ah kamu bisa aja. Aku bahagia tapi malah tambah lama tambah langsing tuh!” Maura mengedipkan mata genit.

berasa kelilipan ular berbisa deh mata eike dikedipin sama ni orang. oh suddenly i remember why i hate this girl back in college. sialan! dibalik counter kasir, aku melihat si Tante Farika tertawa lebar tanpa suara.

“Ih ini kalungnya bagus banget ya? Aku suka lho aksesori merk J* yang kayaknya sih cuman dijual disini,”

“Oh ya?” aku menanggapi dengan simpel. oh wow, jadi dia salah satu regular customer produk-ku?

“So, how are you? Duh….. sekarang kerja disini nih?” tanya Maura sambil matanya menatap manekin yang masih kupegangi. nada suaranya terdengar, err… melecehkan? sooooo Maura! Maura banget lah.

saat itu juga, momen demi momen mengesalkan antara kami berdua, berkelebat didalam benakku.

oke ini cuma ilustrasi. we were not cheerleaders.

Photobucket

“Lho Maura kenal Jhanty ya?” saved by the bell. Tante Farika came to the rescue!

“Iya Tanteeee… dulu kami sekampus! Begitu lulus, aku jadi sekretaris, eh dia kerja disini. Ih kebetulan banget bisa ketemu ya, seneng deh. Aku abis nemenin Pak Boss aku meeting di Tator Cafe sana loh!” nyerocos aja tuh si mbak satu ini. aku diem aja.

“Kawan akrab?” tanya Tante Farika lagi dengan senyum penuh makna memandangku.

“Bangeeeeet!” jawab Maura tetep dengan nada suara excited! high-pitch sound lah. demi mendengar jawaban Maura itu, aku pun langsung memberi dia ‘no-we-were-not’ look.

ih enak aja ngaku-ngaku!

“Jhanty ini keponakan Tante. Dia itu supplier aksesori loh disini. Tuh yang kamu pake? Kamu beli bulan lalu kan sama yang merah juga? Itu dia yang bikin loh!”

nah. aku sudah bisa mulai tersenyum.

“Oh yaaaa?” Maura menatapku tak percaya. andai yang ngomong gitu bukan Tante Farika, owner-nya butik ini, pasti dia ga bakalan mau percaya kalo merk aksesori favoritnya adalah BUATAN-KU! hah!

“Jhanty kamu dari tadi kok diem aja sih? Terlalu excited ya ketemu teman lama,” Tante Farika kembali menggodaku. ARGH Tante apa-apaan sih?

“Maura, sorry tas pesenan kamu belom ada. Nanti kalo sudah ready stock, pasti kamu tante telpon,” dan Tante Farika pun memberi cipika-cipiki pada Maura dan melenggang kembali melayani customer.

“Uh Maura, sori nih but i have to go back to work,” aku memberi senyuman garing dan berharap dia segera say goodbye and get the hell outta the boutique!

Photobucket

“Iya nih aku juga sibuk banget, tadi aku ninggalin Pak Boss aku pamitan mau shopping bentar disini. Yah maklumlah tanggal muda gini kayaknya kegiatan sehari-hari ya kalo gak nge-mall buat makan, ya shopping lah,”

GAK TANYA! batinku sambil menggigit bibir.

“Oh ok,” wajahku udah pasrah banget. ni anak gak kudu kembali ke Pak Boss-nya ya? KERJA GIH sono!

“Jhanty, besok lo ada acara gak? Kita ketemuan yok disini? After working-hours, around 5.30 pm?”

“Wah jam segitu kan jam-nya orang sholat Maghrib!” aku berusaha mengelak.

“Oh,…. iya ya? Ya udah, gue tungguin lo di Black Canyon Coffee jam 6.30 ya?” Maura menatapku dengan pandangan berharap. i didnt know what she was up to.

Photobucket

“Aku ga suka ngopi,” jawabku lagi.

“Oh ya udah kalo gitu, ehm, Sabtu deh. Jam 7 kita ke Soho ya? Mau ya?? Sabtu itu ulang tahun-ku lho… Masa kau mau menolak sih undangan dari teman lama ?” argh! aku pun tak kuasa menolak.

“Ok fine, Sabtu,” aku menyerah pasrah.

“Ah senangnya! Kamu boleh ajak pacar lho, eh……………. kalo kamu punya sih…” Maura mengulum senyum, “Dan oh, acaranya semi-formal loh. Eng… no jeans okay?” matanya dipicingkan, naik turun memandangi penampilanku hari itu yang cuma pake jeans, kemeja kotak-kotak, dan boots. WTF?!! What Tje Fukkk?!

WHY DID I EVEN SAY YES. WHY GOD? WHYYYYY?

dan Tante Farika pun tak bisa menahan tawa-nya begitu punggung Maura tak nampak lagi diluar butik sana.

Sumber gambar : Getty ; Best Stuff ; Sutos (from flickr) ; bulu mata palsu ; cheerleaders ; dan lain-lain dari google.

it was a week ago…..

Photobucket

tuk tuk tuk tuk…

aku mengetuk-ketukkan jemari di meja cafe ini sambil sesekali melirik kearah arloji. sudah 20 menit saya nantikan dia datang, dan jika 5 menit lagi dia tidak tiba maka aku akan angkat kaki dari cafe ini. pers#tan dengan laparnya perut ini.

huh, orang dimeja sebelah memesan seporsi pasta, nampaknya sungguh enak. aku pun inginnya segera memesan makan siang hari ini, dengan menu spesial hari Senin adalah aneka pasta yang didiskon 30%.

Photobucket

aku dengan gelisah  menyeruput chocolate milkshake yang tersisa 1/3.

“Maaf Ibu, sudah siap untuk order?” tanya seorang waiter dengan halus.
“Belum Mas, masih menunggu teman,” tolakku ga kalah halusnya.

ah sudah pas 30 menit! menoleh kearah pintu masuk dengan harapan sosok yang dinanti akan muncul. sial, belum nampak juga batang hidungnya. meng-klik menu Facebook di BB, dan ternyata dia belum balas juga wall-ku.

tiba-tiba merasa bodoh. sungguh bodoh.
apa yang ku harapkan dari dirinya?

Photobucket

seseorang dari masa lalu yang tiba-tiba add aku di Facebook, saling sapa dan tertawa wall-to-wall selama beberapa hari terakhir ini. tawa dan candaan yang khas ‘kami dulu’.

ah sungguh 5 tahun tak saling kontak, dia terlihat tambah tampan! dan status-nya pun masih, single? hmmm… mungkinkah dia masih patah hati dengan perpisahan kami 5 tahun yang lalu dan belum menemukan ganti-nya diriku? huuuuu! GR sekali! hehehe.

“Silahkan Bu,” waiter yang tadi kupanggil, menyodorkan bill di mejaku. aku bayar dengan cash, tak sampai 50 ribu kok.

Photobucket

siang itu aku memang sudah berniat untuk mengunjungi mall ini. status Facebook semalam sebelumnya adalah, “Makan siang di Cafe X besok. Sungguh rencana yang menyenangkan.”

Photobucket

tak disangka, beberapa menit sesudah update status itu, dia mengirimkan private message, mengajak bertemu pukul 12 siang. tak kubalas sampai tadi pagi! sungguh berdebar-debar semalaman tidur tak nyenyak! ya- gak -ya – gak – ya – gak. temui dia atau tidak? rindu ini membuncah sedemikian rupa hingga kutepis akal sehat ini dan menjawab,

“Ayo. Kutunggu ya! Masing ingat wajahku?”
“Mana mungkin aku lupa? Kan foto-mu begitu banyak di Facebook! tak banyak berubah kok, tetap seperti dulu,”
“Oke, see you there!”

dan kini, sudah pukul 12.40 dan dia belum datang dan bodohnya adalah : selain kontak di Facebook, kami belum saling bertukar nomer handphone!! jadi satu-satunya jalan menghubungi dia adalah melalui wall atau private message di Facebook saja!

ku masukkan uang kembalian kedalam dompet. sekali lagi kulirik pintu masuk cafe ini. terasa sesak didada-ku. ntahlah tak bisa kuterjemahkan. antara sedih dia tak datang atau….

tiditit.

handphone-ku berbunyi. ada SMS.

“Makan siang apa hari ini, sayang? Jadi makan pasta? Ah pasta buatanmu masih lebih enak. Hati-hati dijalan, pilih taksi yang bagus dan terpercaya ya!”

suamiku yang mengirimkan SMS itu.

ah, tidaaaaaak!
apa yang hampir saja kulakukan??

Photobucket

dengan lekas kutinggalkan cafe itu, berjalan dengan tergesa kearah pintu keluar mall dan naik ke taksi. taksi yang bagus dan terpercaya seperti pesan suamiku.

didalam taksi aku menangis tanpa suara.

****

Photobucket

malamnya, setelah suami terlelap, kunyalakan laptop dan ada pesan di inbox Facebook-ku. dari dia, “Sorry I couldnt make it today, mendadak ada panggilan untuk operasi. sungguh menyesal tidak sempat menghubungimu karena sinyal sungguh jelek di rumah sakit jadi tidak bisa konek ke Facebook. did you wait for me? can I ask your phone number please?”

ah mas dokter. aku tidak menyesal- tidak bertemu denganmu hari ini.

malam itu, ku-deactivate account Facebook-ku.

Images from : google & gettyimages.