Snape’s Angels

January 24, 2010

+ A story about Jhanty, Andreina and Desdemona +

Berawal dari kecurigaan beberapa sahabat lama tentang aku yang men-deactivated akun Facebook-ku. Desdemona ‘Monce’ dan Andreina ‘Bule Betawi’. Mereka heran dong, kenapa kok mendadak aku lenyap dari jagad social-networking! Well, aku harus akui kalo aku nyesel juga sih udah secara terburu-buru menarik diri dari dunia Facebook. Ya tapi gimana lagi dong? Aku takut banget ntar terperosok lebih jauh sama Dito….

PhotobucketFacebooking no more!

Anyway, sejak men-deactivate akun Facebook-ku, aku belum dengar apa-apa lagi dari dia.

Tapi bukan Dito yang mau kubahas. Aku cuma mau bilang kalo aku kangen sama Snape’s Angels.

Photobucket

Angels yang akhirnya kuberikan alamat blog ini sebagai jawaban kenapa aku men-deactivate Facebook-ku.

Photobucket

Snape itu nama julukan dari kami bertiga buat Dosen galak-mampussss (kayak Professor Snape di Harry Potter) yang kelasnya pertama kali mempertemukan kami di kampus.

Photobucket

Desdemona si Tukang Pukul

Aku, Jhanty si Tukang Nangis (coz emang paling gampang mewek); Andreina si ‘Bule Betawi’ si Tukang Ngomporin (ga bisa liat situasi adem-ayem, suka ngomporin teman-temannya buat berbuat kejahilan); dan terakhir si Desdemona ‘Monce’ as the fierce Tukang Pukul (kalo kami dijahatin orang, laporan aja ke Monce! Biar dia yang beresin!).

Terakhir kali ngumpul bareng sih udah lama banget coz Andreina sang Bule Betawi sudah ditarik kembali ke Jakarta.

Photobucket

Sementara Desdemona sibuk beraaaaaat mengabdikan dirinya untuk menjadi Guru Privat + babysitter anak-anak (super nakal!!), dari para orang tua kaya di Surabaya.

Kadang sih masih ketemu sama Desdemona kalo pas anak-anak asuhnya liburan (hari besar) atau pas mereka summer vacation keluar negeri. Jadi si Monce ini bisa menyempatkan diri buat maen kerumahku siang sampai sore. Biar kata kerjanya tiap hari membanting tulang ngurusin anak orang doang, tapi kalo gajinya total hampir 4 juta ya ga pa-pa yaaaaa! Hahaha…

Kalo si Andreina, dia bekerja sebagai sekretaris di Ibu Kota. Ya nothing special lah tentang pekerjaannya ini, hehehe….

Photobucket

Aku sendiri? Dulu sempet bekerja sih di forwarding company gitu lah. Tapi lantas setelah miscarriage waktu itu, suami menyuruh aku resign. Jadilah aku pekerja seni, alias tukang bikin aksesori. Beruntung Tante Farika sempet ngajakin kerja-sama, aku bisa supply produkku ke butiknya dia di Sutos. But that didn’t last long coz akhirnya aku jadi, alhamdulillah, terlalu sibuk buat ngerjain pesanan souvenir. 50-100 item dalam waktu 1-2 bulan, jelas aku ga punya waktu lagi buat supply produk ke butik. Meski ga tentu bisa 100 item per bulan, kadang cuma 30-50 item saja.

Tapi yang namanya rejeki tuh adaaaaa aja! Kayak waktu itu aku lagi ga ada proyek souvenir. Trus Nyonya Z di Graha Famili mesen 5 item pas tepat aku lagi butuh duit buat ngirimin adekku di Jakarta.

Ah anyway, I really miss those two best-friends of mine. Terutama saat sekarang dimana aku kudu berhadapan lagi dengan kutu-kutu dari masa lalu (Maura dan Renata). Dulu ada Andre yang stood right behind me and Monce yang akan ‘menghajar’ tu cewek-cewek reseh. But now? I’m on my own……

Photobucketthey were crawling like spiders

Guys, wish me luck ok??!! I really need bunch of luck right now coz it seems that Maura and Renata had reach a success on their attempt to crawl their way back to my life!!

+LEBAAAYYY!!!+

Hahaha…..

Advertisements

So yesterday I had a lunch with Maura and Renata.

What did we eat? Okay, the main menu was ME. Yes, me. The unfortunate Jhanty, yang demi kebulan asap dapur, merelakan dirinya menjadi bulan-bulanan dua wanita cantik itu kemaren siang.

Tolong jangan bayangkan aku tidur di atas nampan besar, tangan diikat, badan diolesi minyak sayur+ kaldu dan mulut disumpel pake apel, lalu mereka berdua mengiris dagingku sedikit demi sedikit.

Tidak seburuk itu kok. Lupakan paragraf pertama diatas. Sungguh tidak seburuk itu, well at least aku akhirnya berhasil mendapatkan kesepakatan bisnis dengan Renata! Yay!! Produkku dipesan oleh calon mempelai yang cantik itu (i hate to admit it, but yes, she still looks good with her curly shiny red hair. but the hair color is fake, by the way!).

50 gelang sebagai souvenir akad nikah, plus 30 gantungan kunci sebagai souvenir pengajian!! Yaaaayyy!!Alhamdulillah, lumayan banget meski karena pesanan borongan jadi ambil untung per-piece-nya ga banyak. Tapi 80 pieces kan lumayan!

anyway busway, here’s the detail of the yesterday lunch :

Photobucket

Pukul 12 pas aku tiba di gedung perkantoran tempat Maura bekerja. Kondisi? Basah kuyub karena kehujanan. I was not on my best appearance. Well actually I never was on my best appearance everytime I met Maura. Grrrrr….. Kayak tikus abis kejebur got, deh, penampilanku!

Aku :
Maura, aku sudah diparkiran. Mo naik ke kantormu tapi aku lupa lantai berapa.

Maura :
So you’re here already? Wow, on time banget! Iya iya, lantai 5 yaaa.

Aku :
okay. I’ll go the rest room first.

~ Untungnya aku sudah mempersiapkan diriku untuk kondisi basah kuyub seperti ini, jadi aku membawa celana jeans ganti dan kemeja bersih yang terasa begitu hangat. Jas hujan bodoh-ku itu ntah mengapa, tidak begitu ampuh membentengi diriku dari air hujan!

BB-ku berbunyi, BBM dari Mbak Wig:

Wigati : piye nduk? Wes nang TKP?
Jhanty : qiqiqi… sampun buk’e. sialnya aku tadi kehujanan, jadi bener-bener sedang tidak dalam penampilan terbaik-ku 😦
Wigati : wes ra po-po. good luck ya! :-*

Photobucket

Ketika tiba di depan pintu masuk kantornya, ternyata Maura sudah berdiri di depan. She looked really chic dengan penampilan sekretaris-nya itu. Kumplit dengan high-heels 7 centi yang tidak akan pernah mampu kupakai.

“Jhanty! Hello darla! You look like mess, what happened?” khas Maura, selalu bisa membuat orang merasa minder saat berada didekatnya.

Aku meraba wajahku yang ternyata sungguh berminyak. Aku lupa ga touch-up make-up dengan bedak dan lipstik!! Awww… sekarang wajahku pliket karena air hujan!

“Aku tadi kehujanan,” sahutku dengan senyum hambar.
“Ow? Emangnya kamu parkir mobil dimana kok bisa kehujanan?”
“Aku nyetir motor kok,”
“Oh ya ya? Sorry darla, I forgot that you havent got any car yet,”
Maura memberikan senyum manis sejuta makna yang membuatku terpaksa senyum kembali padanya sambil menggigit bibir. Gemas aku!

Maura menggandengku kearah sebuah ruangan yang pertama kukira adalah ruangan meeting, tapi setelah melihat ada dispenser dan kulkas disana, kusimpulkan itu adalah ruang makan.

“Renata will be here any minute! Tadi dia ke TP (Tunjungan Plaza) sebentar, mo ngepas cincin berlian-nya sih, katanya,” saat mengucapkan hal itu, bisa kulihat Maura melirik kearah cincin kawinku. Eh ini juga berlian ya, gebleg! Meskipun belinya di Pasar Atom!

Aku menarik napas panjang, “Oke, ini contoh produk dan foto-foto produk yang sudah laku. Bilang aja ke Renata supaya membawanya dulu, kalo ada pertanyaan bisa SMS aku, telpon, atau YM. Dan ga usah sungkan kalo akhirnya ga jadi pesen. That’s fine,” oke great, now can I go out from here?

“Lho, kamu mau kemana? Tunggu Renata dulu dong, Jhan… Kita makan siang dulu ya? Aku sudah pesankan chicken teriyaki untukmu nih,” Maura mengambil setumpuk kotak styrofoam berlogo restaurant fast-food Jepang terkenal, “Kita bertiga makan siang bareng yaaa… Mumpung kantorku lagi sepi nih!”

Hmmm? Iya juga, kantornya nampak lengang, “Pada kemana pegawai yang lain?” tanyaku.
“Oh mereka makan siang di Delta Plaza, salah satu Manajer ada yang ulang-tahun. Aku ga ikutan coz aku nunggu kiriman paket dari luar kota buat si boss. Biasanya datang antara jam 11 sampai jam 1 siang sih,”

Aku manggut-manggut sambil menata contoh produkku di meja makan. Tak lama BB-nya Maura berbunyi, and I recognized the ringtone as notifier_crystal.

“Bentar ya Jhan, duduk dulu aja. Aku mo jemput Renata di depan,” mataku membelalak, oh no she’s here. Ya Tuhan, jangan biarkan makan siang ini menjadi makan siang petaka.

“Halo Jhantyyyy! Apa kabar Jeng? Duh, bener ya kata Maura! Kamu gendutan sekarang! Hamil yaaaa?” Renata menyodorkan pipi-nya untuk ritual cipika-cipiki yang terpaksa kuterima.
“Nggak lagi hamil kok Ren,” aku berusaha tersenyum ramah.

Sabar… sabar… ini potential customer, aku kudu sabaaaarrr…..

“Lho kok belum hamil sih? Udah lama nikah kaaaan?” Renata menatapku heran.
“Jhanty bilang dia gendutan karena hidupnya bahagia, hihihi,” Maura terkikik, suaranya membuatku merinding dan seolah mendorongku untuk membaca Ayat Kursi.
“Oh, so marriage satisfy you this much yaaa?” Renata ikutan cekikikan sambil meremas lenganku yang gemuk.

Dia membuka blazer abu-abunya dan ternyata dia memakai kemeja tanpa lengan yang memamerkan, dear God, lengannya yang kurus dan seputih dinding kantor Maura. Arggghhh…. Look at them! They look so chic and modern in their office attire along with their Zara or Mango bag….sementara akuuuuu? Bandingkan flatshoes dengan high-heels ya…

“Jadi ini produkmu?” Renata memecah lamunanku sambil memegang-megang deretan gelang yang terbungkus kemasan plastik.
“Iya, coba pilih aja kamu mau yang model apa dan warna apa, contoh warna bisa dilihat di album foto,”
“Jhanty ini dulu kerjasama sama butik tante-nya di Sutos lho! Dia stok aksesori kesana! Hebat ya?” aku terperangah mendengar kalimat Maura barusan. Did she just give me a compliment?
Renata melihat label harga yang tergantung di salah satu gelang, “Eh iya, kayaknya aku pernah liat nih merk ini di bazaar di TP!”
Aku tersenyum, “Iya waktu itu aku emang ikutan bazaar, sekitar 2 bulan yang lalu!”
“Wow… Kamu pasti sibuk sekali ya? Apa ga terfikir untuk membuka toko sendiri?” Renata menatapku serius.
Gak lah, aku lebih suka kayak sekarang. Kerja dari rumah, kebanyakan nerima pesanan souvenir saja. Udah beberapa bulan ga stok barang buat butiknya tante Farika dulu, lagi lumayan rame nih pesanan souvenir. Kalung, gelang, gantungan kunci, gantungan HP. Tapi kebanyakan gelang sih,” jelasku.

“Oh ya ampun! Aku inget sekarang! Minggu lalu aku ke acara Siraman sepupu-nya pacarku didaerah Kendangsari, trus aku liat gelang yang mirip yang ini. Aku dapet yang warna ungu!” seru Renata sambil memegang gelang berwarna hijau.
“Hehehe, iya, Tante S ya yang punya hajat? Iya mereka pesen di aku 50 buah,”
“Kamu punya asisten?” tanya Maura.
“Ada satu orang mahasiswa yang tinggal disebelah rumah, tapi kerjanya cuma berdasar pesanan aja. Kalo pas pesanan lagi banyak dan butuh cepet, ya aku pakai jasa dia. Kalo masih bisa aku handle sendiri, ya aku kerjakan sendiri aja,” Renata dan Maura manggut-manggut.

For the very first time yesterday, I believed that they put a respect on me. But happiness didnt take a long time,

“Ren, kamu tadi nyetir sendiri ke TP?” tanya Maura mengalihkan pembicaraan.

Photobucket

“Gak, aku pake supir. Jazz-ku masuk bengkel nih! Abis nabrak malam minggu kemaren kan? Aku sudah cerita,” Renata merengut. Merengut aja masih tetep keliatan cantik lo Ren!
“Ya ampun emang nabraknya parah banget ya?”
“Kamu abis kecelakaan, Ren?” tanyaku.

Photobucket

“Iya, malam minggu pulang dari Blowfish, tunanganku agak-agak kebanyakan minum kali yaa? Trus nabrak pembatas jalan deket rumahku!” Renata cekikikan. Gah, mabuk kok dianggap lucu sih?
“Yaelah, gue kira lo becanda waktu BBM gue subuh-subuh, ngabarin kalo lo abis kecelakaan!”

dor, keluar deh betawian lo-gue-lo-gue-nya. keturunan ondel-ondel kali ni anak berdua ya?

Photobucket

“Gila kali lo, mesti liat deh mobil gue kayak apa sekarang! Apes deh, gue sekarang kemana-mana dianter supirnya nyokap! Naik A140-nya,” kenapa pas nyebutin mobil mama-nya yang Mercy A140 itu Renata memandang kearah gue eh aku sambil tersenyum tipis ya?
“Ih, dulu kan gue ditawarin bokap buat pake A140 tapi gue ogah ah. Daripada Mercy bekas, mending beli Jazz baru lah!” Maura menyibakkan rambut panjangnya.
“Ya eyyalah bok!” sahut Renata.

ngek-ngok.

“Eh lo gak pake motor pembokat lo itu aja? Lo bilang kalo ke pasar sekarang, tu si Inem lo tuh gaya pake matic? Hehehe….” Maura ketawa kecil. Tawa yang menyebalkan no matter how good she looked with that terracota glossy lipstick.

Photobucket

“Gile kali yaaaaa, naik motooooor? Duh pelase dong ah! Yah, sia-sia dong gue facial di Erha kalo bawaannya trus naik motor!” sahut Renata diikuti tawa berderai.

Aku cuma bisa senyum asem. Sabar buuuuukkk…!

Photobucket

“Eh kunci motor kamu ini, gantungan kuncinya bikin sendiri kan?” senyum Maura sambil menyerahkan kunci motorku yang ntah mengapa ada di dia??!
“Eh, kok ada di kamu?” tanyaku, kaget bercampur kesel.
“Tadi jatuh di depan, pasti kamu gak sadar,” Maura menatapku dengan pandangan yang……membuatku ingin menancapkan sumpit kemata-nya. Halah, sadis amat!
“Oh………………” Renata menatapku, “Jadi kamu naik motor? Ih, ujan-ujan gini?”
“Beli mobil dong Jhan, minta sama Suami-mu! kan bisa dipake gantian! Beli aja apa kek gitu, avanza atau xenia, kan murah tuh!” Maura tersenyum simpul sambil membagikan kotak styrofoam makan siang kami, satu persatu.

See? Ini adalah sebabnya aku gak mau makan siang sama mereka! I knew it will end this way!! Kampret!

She just won’t let me go!

January 21, 2010

Pagi-pagi dapat SMS dari Maura.

Okeeeeee…… Kamu masih ingat Mbak Bulu Mata Palsu ini?

I wish I cud just forget about her existence in my life….hahaha….. Oh well, I have done that and actually can do it again, but it seems to me that she’s the one who won’t let me go out of her life (for the 2nd time setelah dulu aku berhasil menghilangkan jejakku pasca kelulusan)….

Here are the messages:

Photobucket

Maura :
Jan 21, 2010 06:16:59
Darla, do you have any plan for today’s lunch? Cmon, visit me at my office!

Aku :
Sorry Maura, hari ini nampaknya akan hujan lagi kayak kemaren. I don’t wanna go anywhere.

~ I know what she has in mind. Dia pasti mau memamerkan kantornya yang ‘wah’ itu, padaku. Huh…

Maura :
Wow that’s too bad. Ada teman yang mau pesen gelangmu 50 buah buat souvenir akad nikahnya 2 bulan lagi. Last night, I was trying so hard to convince her that you have good product :)

~ Aku menarik napas panjang, antara kesel dan senang. Senang mo dapet rejeki lagi. Kesekian kalinya dari Maura.

Aku :
Really? Oh wow Maura! Thanks!! Hmmm… Trus dia bilang apa?

~ Sungguh! Melalui SMS diatas, kucoba untuk mengirimkan aura kegembiraan (palsu) ditengah ucapan terima kasihku padanya.

Maura :
She said that, she would like to see the sample of your product.

Aku :
Okay, aku bisa bawakan dia beberapa hasil karyaku, dan beberapa foto. Rumahnya dimana?

Maura :
Oh so you wanna visit her at her house? Gak usah repot-repot! Kamu taroh aja barangnya dikantorku. Dia ngantor disebelah kantorku kok. So? Today at 12?

~ Dang! Kuhabiskan 30 menit bermeditasi dan mikir. Pake alasan apa dong aku supaya ga usah main ke kantornya dia? Hmmm, kalo aku minta pendapat Suamiku, pasti dia suruh aku ke kantornya Maura. Lantas ku-SMS dan email si Marwan tapi tak ada balasan dan YM-nya mati lampu. Dia pasti lagi ga di kantor.

Aku langsung memutuskan untuk mengirim pesan SOS pada si inginbercerita alias Mbak Wigati, melalui BBM.

Photobucket

Jhanty : mbaWig!!
Wigati : hmmm ….
Jhanty : sibuk?
Wigati : jam kantor, darling. What’s up?
Jhanty : that b*tch smsed me just now.
Wigati : and??

~ Oh well, I had to told her the story in a brief, secara si Mbak suka sensi kalo diganggu pas jam kantor. Dan saran dari Mbak Wig adalah:

Wigati : the options are ask her OB to pick up the sample (jaraknya gak terlalu jauh memang) or ask someone or even yourself tanpa ketemu. Just drop it.

Jhanty : hmmmm …. Gimana ya??
Wigati : you might come up with a better solution, dear. Mbakmu suka jam goblok kalo pas jam kerja gini.

~ Bismillah. Bismillah. Bismillah. Kukuatkan hatiku, mohon pencerahan dari-NYA sebelum akhirnya kubalas SMS Maura:

Aku :
Masih ngantor di Pangsud kan? Ya ntar aku mampir sebentar.

~ Maksudku: Jalan Panglima Sudirman Sudirman, daerah perkantoran di Surabaya. By the way, years ago, kawasan pinggir jalan Pangsud ini terkenal akan koleksi ‘ayam’nya…..if you know what I mean.

Maura :
Oh is this mean that we’re gonna have lunch together? Yay! Ok I’ll wait for you at 12 okay? Aku udah nge-YM si Renata barusan, kalo hari ini jadi ketemuan jam 12.

~ o ow. Berasa ada alarm tanda bahaya berbunyi di kepalaku. Renata?? That ‘Renata’??

Aku :
Maura, eh ini Renata siapa ya?

Maura :
Kamu lupa? Renata senior-mu di kampus dulu itu loh! Anak angkatanku yang dulu rambut panjangnya di-cat merah. Masak kamu lupa? Kita bertiga pernah sekelas kan?

~ Kill. Me. Now. Somebody. Please??!

Aku :
Oh ya. Ya tentu aku masih ingat Renata yang mana. Eh tapi aku mampir doang lho! Ga ikutan lunch deh ya, keburu ujan. Oke sampai ketemu ya!

~ Argghhhhhh! Marwaaaaaan! Kau benar! The ghost(s) from the past are haunting me now at the present. Ini sih namanya triple blastsss from the past!

Bagaimana cerita selanjutnya? Well akhirnya aku terpaksa bergabung dalam acara makan siang (saat dimana rasanya chicken teriyaki-ku, berasa mirip jantung ayam mentah!) bersama Maura dan Renata siang tadi. Ah ntar lagi deh ngetiknya! I need to design pesenannya Renata nih!

Write again later :-*

Main api main gila

January 18, 2010

“Gimana ceritanya kok kamu bisa hampir makan siang sama Dito?”

Photobucket

Siang itu terasa begitu muram seiring dengan datangnya mendung kelabu yang menghalau sinar mentari. Mendung yang menghantarkan gerimis ke kota Surabaya dan dengan sukses membuatku terpaksa membatalkan rencana delivery ke rumah salah satu customer.

Shit. Aku sudah terlanjur berjanji mengantarkan hari ini atau aku akan memberikan dia bonus sebuah gelang cantik (semacam denda/ bonus atas keterlambatanku).

Alhasil siang itu pun, seusai meronce gelang seharga 35 ribu rupiah, gerimis pun kunikmati dengan chatting di YM! dengan seorang teman lama. Teman baik. Seorang pria,teman lawan jenis. Oh tapi kami selalu berteman tak pernah ‘lebih’. Marwan Limantara namanya.

Kubaca lagi kalimat diatas dengan seksama: “Gimana ceritanya kok kamu bisa hampir makan siang sama Dito?”

Apa yang harus kukatakan pada Marwan? Kurasa sudah cukup cerita yang kuketik disini? Tapi kurasa yang ingin Marwan tanyakan sebenarnya adalah, bukan dimana kami bertemu kembali (jawabnya adalah: di Faceook), tapi gimana kok sampai bisa ada niat hendak ‘bertemu’ kembali.

Photobucket

Lim Marwan : hey sibuk tah awakmu?
Jhanty Olivia : gak, cuma ngeronce pesenan.
Lim Marwan : eh … km ya… mau main apiiiii! niat selingkuh km yaaaa!!
Jhanty Olivia : heh, apa-apaan ini?!
Lim Marwan : Gmn critanya kok km bs hampir makan siang ma Dito?
Jhanty Olivia : apaan sihhhh?
Jhanty Olivia : kok kamu yakin kl itu dito?
Lim Marwan : 5 tahun lalu kan kisah cintamu ngglibetnya ma dito aja toh? am i wong?
Lim Marwan : wrong. sori typo.

DAMN! Emang postinganku bisa dengan segitu jelasnya ya menggambarkan bahwa lelaki itu adalah Dito??

Lim Marwan : heh!
Lim Marwan : lapo kok meneng ae?
Lim Marwan : nggondok ta?
Jhanty Olivia : ih, sori ya. emange aku ABG, pake acara nggondok sgl?
Lim Marwan : so?
Jhanty Olivia : so what?
Lim Marwan : back to topic deh ya, hurry up, i dont have much time! eh jhan, seumur-umur, km adl org terakhir yang kubayangkan akan berselingkuh dari suaminya…
Jhanty Olivia : shit.
Jhanty Olivia : idk.
Lim Marwan : kok bisa i dont know? kalian g jd bertemu kan?? jgn gila ya kamu!
Lim Marwan : serius deh! serius deh! what is wrong between you and your husband??
Jhanty Olivia : gak. gak ketemuan kok. nggaaaaaaakk!
Lim Marwan : upppsss! gtg. brb.

Ah sialan! Disaat aku sudah mau curhat tapi kami kembali terpisahkan oleh pekerjaan. Sial!

Photobucket

Lim Marwan : serius deh! what is wrong between you and your husband??

Damn it!

Pertanyaan itu…. Sungguh menohok.

Orang bilang, perselingkuhan terjadi karena ada salah satu pihak yang tidak puas kepada pasangannya, maka lalu ia mencari pelampiasan ditempat lain. Pelampiasan kepada orang lain.

Lalu apa yang membuatku sampai hampir saja nekat mau main api dibelakang Suamiku??

Maksudku, aku ga bermaksud GR bahwa Dito berusaha mengajakku ‘main gila‘. Tapi yaaa… Dito bukannya gak tau kan kalo aku sudah menikah? Facebook-ku memberi semua informasi yang dia mau tau!

Dan kita berdua tau lah, kalo pertemuan yang semestinya terjadi waktu itu, bukan sekedar antara dua kawan lama (mantan pacar, lebih tepatnya) yang sekedar haha-hihi ngobrol berdua!

Kurasa pertanyaan Marwan selanjutnya akan berupa : “Kenapa kok kamu sampai nekat mau menemui Dito?”

Dan jawabanku akan seperti ini saja: “Aku tidak tau,”

Images from : google & gettyimages.

Blast from the past!

January 7, 2010

:: SERANGAN MBAK BULU MATA PALSUUU! ::

attack of the ‘Miss Fake Eyelashes’

eyelashes

Ini cerita udah basi sih. asli. ibarat susu, udah jadi yoghurt kale’…! diketik dan tersimpan rapi di folder rahasia sejak beberapa bulan yang lalu. tapi ah ya sudahlah, daripada ga ada bahan postingan dan bahan gosipan (eh apasih?!)

ya udahlah nyeritain ini aja : asal muasalnya hidupku kembali direcokin oleh teman lama yang bernama Maura.

Sutos Surabaya

Sutos Surabaya

we met again, setelah terakhir kali bersua di our graduation-day. we met at the most happening mall at my city, these days > SUTOS (Surabaya Town Square. IYE CING, ini teh sodaraan ama CITOS- JKT).

Jadi ceritanya aku waktu itu, siang-siang mo ke salah satu butik disana. belanja? oh no…no… i was better than that. i used to supply handmade accessories to one of the boutiques there. later on, i’ll share you the detail lah.

pas abis nyetok barang, ya gak langsung pulang dong. nata barang dulu di display lah sambil ditemenin Tante Farika yang punya butik. pas lagi asik nata barang di manekin, ada seorang mbak-mbak wangiii banget lewat disampingku. Escada, Pacific Paradise.

beberapa menit kemudian, ada yang menepuk pundakku,

“Jhanty ya?” suara yang lumayan familar. aku pun berbalik badan dan ternyata dia adalah….

“Maura?” alisku terangkat melihat sosok mbak-mbak cantik dengan alis tipis dan riasan mata smokey-eyes, PLUS bulu mata palsunyaaa!

“Iya Jhan, ini gue!”

oh oke, it is HER. ga banyak temanku di Surabaya ini yang berbahasa lu-gue.

“Apa kabar? Duh kamu gendutan yaaaa?” terdengar excited saat menyebutkan kalimat terakhir.

“Eh iya nih, biasalah…. gendut kan lambang kebahagiaan, hehehe,” elakku halus.

“Ah kamu bisa aja. Aku bahagia tapi malah tambah lama tambah langsing tuh!” Maura mengedipkan mata genit.

berasa kelilipan ular berbisa deh mata eike dikedipin sama ni orang. oh suddenly i remember why i hate this girl back in college. sialan! dibalik counter kasir, aku melihat si Tante Farika tertawa lebar tanpa suara.

“Ih ini kalungnya bagus banget ya? Aku suka lho aksesori merk J* yang kayaknya sih cuman dijual disini,”

“Oh ya?” aku menanggapi dengan simpel. oh wow, jadi dia salah satu regular customer produk-ku?

“So, how are you? Duh….. sekarang kerja disini nih?” tanya Maura sambil matanya menatap manekin yang masih kupegangi. nada suaranya terdengar, err… melecehkan? sooooo Maura! Maura banget lah.

saat itu juga, momen demi momen mengesalkan antara kami berdua, berkelebat didalam benakku.

oke ini cuma ilustrasi. we were not cheerleaders.

Photobucket

“Lho Maura kenal Jhanty ya?” saved by the bell. Tante Farika came to the rescue!

“Iya Tanteeee… dulu kami sekampus! Begitu lulus, aku jadi sekretaris, eh dia kerja disini. Ih kebetulan banget bisa ketemu ya, seneng deh. Aku abis nemenin Pak Boss aku meeting di Tator Cafe sana loh!” nyerocos aja tuh si mbak satu ini. aku diem aja.

“Kawan akrab?” tanya Tante Farika lagi dengan senyum penuh makna memandangku.

“Bangeeeeet!” jawab Maura tetep dengan nada suara excited! high-pitch sound lah. demi mendengar jawaban Maura itu, aku pun langsung memberi dia ‘no-we-were-not’ look.

ih enak aja ngaku-ngaku!

“Jhanty ini keponakan Tante. Dia itu supplier aksesori loh disini. Tuh yang kamu pake? Kamu beli bulan lalu kan sama yang merah juga? Itu dia yang bikin loh!”

nah. aku sudah bisa mulai tersenyum.

“Oh yaaaa?” Maura menatapku tak percaya. andai yang ngomong gitu bukan Tante Farika, owner-nya butik ini, pasti dia ga bakalan mau percaya kalo merk aksesori favoritnya adalah BUATAN-KU! hah!

“Jhanty kamu dari tadi kok diem aja sih? Terlalu excited ya ketemu teman lama,” Tante Farika kembali menggodaku. ARGH Tante apa-apaan sih?

“Maura, sorry tas pesenan kamu belom ada. Nanti kalo sudah ready stock, pasti kamu tante telpon,” dan Tante Farika pun memberi cipika-cipiki pada Maura dan melenggang kembali melayani customer.

“Uh Maura, sori nih but i have to go back to work,” aku memberi senyuman garing dan berharap dia segera say goodbye and get the hell outta the boutique!

Photobucket

“Iya nih aku juga sibuk banget, tadi aku ninggalin Pak Boss aku pamitan mau shopping bentar disini. Yah maklumlah tanggal muda gini kayaknya kegiatan sehari-hari ya kalo gak nge-mall buat makan, ya shopping lah,”

GAK TANYA! batinku sambil menggigit bibir.

“Oh ok,” wajahku udah pasrah banget. ni anak gak kudu kembali ke Pak Boss-nya ya? KERJA GIH sono!

“Jhanty, besok lo ada acara gak? Kita ketemuan yok disini? After working-hours, around 5.30 pm?”

“Wah jam segitu kan jam-nya orang sholat Maghrib!” aku berusaha mengelak.

“Oh,…. iya ya? Ya udah, gue tungguin lo di Black Canyon Coffee jam 6.30 ya?” Maura menatapku dengan pandangan berharap. i didnt know what she was up to.

Photobucket

“Aku ga suka ngopi,” jawabku lagi.

“Oh ya udah kalo gitu, ehm, Sabtu deh. Jam 7 kita ke Soho ya? Mau ya?? Sabtu itu ulang tahun-ku lho… Masa kau mau menolak sih undangan dari teman lama ?” argh! aku pun tak kuasa menolak.

“Ok fine, Sabtu,” aku menyerah pasrah.

“Ah senangnya! Kamu boleh ajak pacar lho, eh……………. kalo kamu punya sih…” Maura mengulum senyum, “Dan oh, acaranya semi-formal loh. Eng… no jeans okay?” matanya dipicingkan, naik turun memandangi penampilanku hari itu yang cuma pake jeans, kemeja kotak-kotak, dan boots. WTF?!! What Tje Fukkk?!

WHY DID I EVEN SAY YES. WHY GOD? WHYYYYY?

dan Tante Farika pun tak bisa menahan tawa-nya begitu punggung Maura tak nampak lagi diluar butik sana.

Sumber gambar : Getty ; Best Stuff ; Sutos (from flickr) ; bulu mata palsu ; cheerleaders ; dan lain-lain dari google.