Sama-sama butuh kan?

February 16, 2010

Kuharap kamu ga berpikir bahwa dalam pernikahan ini, cuma aku doang yang butuh kamu. Tapi kamu-nya gak butuh aku.

Advertisements

So yesterday I had a lunch with Maura and Renata.

What did we eat? Okay, the main menu was ME. Yes, me. The unfortunate Jhanty, yang demi kebulan asap dapur, merelakan dirinya menjadi bulan-bulanan dua wanita cantik itu kemaren siang.

Tolong jangan bayangkan aku tidur di atas nampan besar, tangan diikat, badan diolesi minyak sayur+ kaldu dan mulut disumpel pake apel, lalu mereka berdua mengiris dagingku sedikit demi sedikit.

Tidak seburuk itu kok. Lupakan paragraf pertama diatas. Sungguh tidak seburuk itu, well at least aku akhirnya berhasil mendapatkan kesepakatan bisnis dengan Renata! Yay!! Produkku dipesan oleh calon mempelai yang cantik itu (i hate to admit it, but yes, she still looks good with her curly shiny red hair. but the hair color is fake, by the way!).

50 gelang sebagai souvenir akad nikah, plus 30 gantungan kunci sebagai souvenir pengajian!! Yaaaayyy!!Alhamdulillah, lumayan banget meski karena pesanan borongan jadi ambil untung per-piece-nya ga banyak. Tapi 80 pieces kan lumayan!

anyway busway, here’s the detail of the yesterday lunch :

Photobucket

Pukul 12 pas aku tiba di gedung perkantoran tempat Maura bekerja. Kondisi? Basah kuyub karena kehujanan. I was not on my best appearance. Well actually I never was on my best appearance everytime I met Maura. Grrrrr….. Kayak tikus abis kejebur got, deh, penampilanku!

Aku :
Maura, aku sudah diparkiran. Mo naik ke kantormu tapi aku lupa lantai berapa.

Maura :
So you’re here already? Wow, on time banget! Iya iya, lantai 5 yaaa.

Aku :
okay. I’ll go the rest room first.

~ Untungnya aku sudah mempersiapkan diriku untuk kondisi basah kuyub seperti ini, jadi aku membawa celana jeans ganti dan kemeja bersih yang terasa begitu hangat. Jas hujan bodoh-ku itu ntah mengapa, tidak begitu ampuh membentengi diriku dari air hujan!

BB-ku berbunyi, BBM dari Mbak Wig:

Wigati : piye nduk? Wes nang TKP?
Jhanty : qiqiqi… sampun buk’e. sialnya aku tadi kehujanan, jadi bener-bener sedang tidak dalam penampilan terbaik-ku 😦
Wigati : wes ra po-po. good luck ya! :-*

Photobucket

Ketika tiba di depan pintu masuk kantornya, ternyata Maura sudah berdiri di depan. She looked really chic dengan penampilan sekretaris-nya itu. Kumplit dengan high-heels 7 centi yang tidak akan pernah mampu kupakai.

“Jhanty! Hello darla! You look like mess, what happened?” khas Maura, selalu bisa membuat orang merasa minder saat berada didekatnya.

Aku meraba wajahku yang ternyata sungguh berminyak. Aku lupa ga touch-up make-up dengan bedak dan lipstik!! Awww… sekarang wajahku pliket karena air hujan!

“Aku tadi kehujanan,” sahutku dengan senyum hambar.
“Ow? Emangnya kamu parkir mobil dimana kok bisa kehujanan?”
“Aku nyetir motor kok,”
“Oh ya ya? Sorry darla, I forgot that you havent got any car yet,”
Maura memberikan senyum manis sejuta makna yang membuatku terpaksa senyum kembali padanya sambil menggigit bibir. Gemas aku!

Maura menggandengku kearah sebuah ruangan yang pertama kukira adalah ruangan meeting, tapi setelah melihat ada dispenser dan kulkas disana, kusimpulkan itu adalah ruang makan.

“Renata will be here any minute! Tadi dia ke TP (Tunjungan Plaza) sebentar, mo ngepas cincin berlian-nya sih, katanya,” saat mengucapkan hal itu, bisa kulihat Maura melirik kearah cincin kawinku. Eh ini juga berlian ya, gebleg! Meskipun belinya di Pasar Atom!

Aku menarik napas panjang, “Oke, ini contoh produk dan foto-foto produk yang sudah laku. Bilang aja ke Renata supaya membawanya dulu, kalo ada pertanyaan bisa SMS aku, telpon, atau YM. Dan ga usah sungkan kalo akhirnya ga jadi pesen. That’s fine,” oke great, now can I go out from here?

“Lho, kamu mau kemana? Tunggu Renata dulu dong, Jhan… Kita makan siang dulu ya? Aku sudah pesankan chicken teriyaki untukmu nih,” Maura mengambil setumpuk kotak styrofoam berlogo restaurant fast-food Jepang terkenal, “Kita bertiga makan siang bareng yaaa… Mumpung kantorku lagi sepi nih!”

Hmmm? Iya juga, kantornya nampak lengang, “Pada kemana pegawai yang lain?” tanyaku.
“Oh mereka makan siang di Delta Plaza, salah satu Manajer ada yang ulang-tahun. Aku ga ikutan coz aku nunggu kiriman paket dari luar kota buat si boss. Biasanya datang antara jam 11 sampai jam 1 siang sih,”

Aku manggut-manggut sambil menata contoh produkku di meja makan. Tak lama BB-nya Maura berbunyi, and I recognized the ringtone as notifier_crystal.

“Bentar ya Jhan, duduk dulu aja. Aku mo jemput Renata di depan,” mataku membelalak, oh no she’s here. Ya Tuhan, jangan biarkan makan siang ini menjadi makan siang petaka.

“Halo Jhantyyyy! Apa kabar Jeng? Duh, bener ya kata Maura! Kamu gendutan sekarang! Hamil yaaaa?” Renata menyodorkan pipi-nya untuk ritual cipika-cipiki yang terpaksa kuterima.
“Nggak lagi hamil kok Ren,” aku berusaha tersenyum ramah.

Sabar… sabar… ini potential customer, aku kudu sabaaaarrr…..

“Lho kok belum hamil sih? Udah lama nikah kaaaan?” Renata menatapku heran.
“Jhanty bilang dia gendutan karena hidupnya bahagia, hihihi,” Maura terkikik, suaranya membuatku merinding dan seolah mendorongku untuk membaca Ayat Kursi.
“Oh, so marriage satisfy you this much yaaa?” Renata ikutan cekikikan sambil meremas lenganku yang gemuk.

Dia membuka blazer abu-abunya dan ternyata dia memakai kemeja tanpa lengan yang memamerkan, dear God, lengannya yang kurus dan seputih dinding kantor Maura. Arggghhh…. Look at them! They look so chic and modern in their office attire along with their Zara or Mango bag….sementara akuuuuu? Bandingkan flatshoes dengan high-heels ya…

“Jadi ini produkmu?” Renata memecah lamunanku sambil memegang-megang deretan gelang yang terbungkus kemasan plastik.
“Iya, coba pilih aja kamu mau yang model apa dan warna apa, contoh warna bisa dilihat di album foto,”
“Jhanty ini dulu kerjasama sama butik tante-nya di Sutos lho! Dia stok aksesori kesana! Hebat ya?” aku terperangah mendengar kalimat Maura barusan. Did she just give me a compliment?
Renata melihat label harga yang tergantung di salah satu gelang, “Eh iya, kayaknya aku pernah liat nih merk ini di bazaar di TP!”
Aku tersenyum, “Iya waktu itu aku emang ikutan bazaar, sekitar 2 bulan yang lalu!”
“Wow… Kamu pasti sibuk sekali ya? Apa ga terfikir untuk membuka toko sendiri?” Renata menatapku serius.
Gak lah, aku lebih suka kayak sekarang. Kerja dari rumah, kebanyakan nerima pesanan souvenir saja. Udah beberapa bulan ga stok barang buat butiknya tante Farika dulu, lagi lumayan rame nih pesanan souvenir. Kalung, gelang, gantungan kunci, gantungan HP. Tapi kebanyakan gelang sih,” jelasku.

“Oh ya ampun! Aku inget sekarang! Minggu lalu aku ke acara Siraman sepupu-nya pacarku didaerah Kendangsari, trus aku liat gelang yang mirip yang ini. Aku dapet yang warna ungu!” seru Renata sambil memegang gelang berwarna hijau.
“Hehehe, iya, Tante S ya yang punya hajat? Iya mereka pesen di aku 50 buah,”
“Kamu punya asisten?” tanya Maura.
“Ada satu orang mahasiswa yang tinggal disebelah rumah, tapi kerjanya cuma berdasar pesanan aja. Kalo pas pesanan lagi banyak dan butuh cepet, ya aku pakai jasa dia. Kalo masih bisa aku handle sendiri, ya aku kerjakan sendiri aja,” Renata dan Maura manggut-manggut.

For the very first time yesterday, I believed that they put a respect on me. But happiness didnt take a long time,

“Ren, kamu tadi nyetir sendiri ke TP?” tanya Maura mengalihkan pembicaraan.

Photobucket

“Gak, aku pake supir. Jazz-ku masuk bengkel nih! Abis nabrak malam minggu kemaren kan? Aku sudah cerita,” Renata merengut. Merengut aja masih tetep keliatan cantik lo Ren!
“Ya ampun emang nabraknya parah banget ya?”
“Kamu abis kecelakaan, Ren?” tanyaku.

Photobucket

“Iya, malam minggu pulang dari Blowfish, tunanganku agak-agak kebanyakan minum kali yaa? Trus nabrak pembatas jalan deket rumahku!” Renata cekikikan. Gah, mabuk kok dianggap lucu sih?
“Yaelah, gue kira lo becanda waktu BBM gue subuh-subuh, ngabarin kalo lo abis kecelakaan!”

dor, keluar deh betawian lo-gue-lo-gue-nya. keturunan ondel-ondel kali ni anak berdua ya?

Photobucket

“Gila kali lo, mesti liat deh mobil gue kayak apa sekarang! Apes deh, gue sekarang kemana-mana dianter supirnya nyokap! Naik A140-nya,” kenapa pas nyebutin mobil mama-nya yang Mercy A140 itu Renata memandang kearah gue eh aku sambil tersenyum tipis ya?
“Ih, dulu kan gue ditawarin bokap buat pake A140 tapi gue ogah ah. Daripada Mercy bekas, mending beli Jazz baru lah!” Maura menyibakkan rambut panjangnya.
“Ya eyyalah bok!” sahut Renata.

ngek-ngok.

“Eh lo gak pake motor pembokat lo itu aja? Lo bilang kalo ke pasar sekarang, tu si Inem lo tuh gaya pake matic? Hehehe….” Maura ketawa kecil. Tawa yang menyebalkan no matter how good she looked with that terracota glossy lipstick.

Photobucket

“Gile kali yaaaaa, naik motooooor? Duh pelase dong ah! Yah, sia-sia dong gue facial di Erha kalo bawaannya trus naik motor!” sahut Renata diikuti tawa berderai.

Aku cuma bisa senyum asem. Sabar buuuuukkk…!

Photobucket

“Eh kunci motor kamu ini, gantungan kuncinya bikin sendiri kan?” senyum Maura sambil menyerahkan kunci motorku yang ntah mengapa ada di dia??!
“Eh, kok ada di kamu?” tanyaku, kaget bercampur kesel.
“Tadi jatuh di depan, pasti kamu gak sadar,” Maura menatapku dengan pandangan yang……membuatku ingin menancapkan sumpit kemata-nya. Halah, sadis amat!
“Oh………………” Renata menatapku, “Jadi kamu naik motor? Ih, ujan-ujan gini?”
“Beli mobil dong Jhan, minta sama Suami-mu! kan bisa dipake gantian! Beli aja apa kek gitu, avanza atau xenia, kan murah tuh!” Maura tersenyum simpul sambil membagikan kotak styrofoam makan siang kami, satu persatu.

See? Ini adalah sebabnya aku gak mau makan siang sama mereka! I knew it will end this way!! Kampret!

Shit Happens

January 22, 2010

Shit happens, all the time!

One happened to me yesterday, the kind of shit which forced me to leave my last blog and move to this address.

so… I’m still Jhanty S. Olivia, the same woman with a husband; his aunt she has to live with; and some friends (the good, the best and the worst).

Enjoy!

She just won’t let me go!

January 21, 2010

Pagi-pagi dapat SMS dari Maura.

Okeeeeee…… Kamu masih ingat Mbak Bulu Mata Palsu ini?

I wish I cud just forget about her existence in my life….hahaha….. Oh well, I have done that and actually can do it again, but it seems to me that she’s the one who won’t let me go out of her life (for the 2nd time setelah dulu aku berhasil menghilangkan jejakku pasca kelulusan)….

Here are the messages:

Photobucket

Maura :
Jan 21, 2010 06:16:59
Darla, do you have any plan for today’s lunch? Cmon, visit me at my office!

Aku :
Sorry Maura, hari ini nampaknya akan hujan lagi kayak kemaren. I don’t wanna go anywhere.

~ I know what she has in mind. Dia pasti mau memamerkan kantornya yang ‘wah’ itu, padaku. Huh…

Maura :
Wow that’s too bad. Ada teman yang mau pesen gelangmu 50 buah buat souvenir akad nikahnya 2 bulan lagi. Last night, I was trying so hard to convince her that you have good product :)

~ Aku menarik napas panjang, antara kesel dan senang. Senang mo dapet rejeki lagi. Kesekian kalinya dari Maura.

Aku :
Really? Oh wow Maura! Thanks!! Hmmm… Trus dia bilang apa?

~ Sungguh! Melalui SMS diatas, kucoba untuk mengirimkan aura kegembiraan (palsu) ditengah ucapan terima kasihku padanya.

Maura :
She said that, she would like to see the sample of your product.

Aku :
Okay, aku bisa bawakan dia beberapa hasil karyaku, dan beberapa foto. Rumahnya dimana?

Maura :
Oh so you wanna visit her at her house? Gak usah repot-repot! Kamu taroh aja barangnya dikantorku. Dia ngantor disebelah kantorku kok. So? Today at 12?

~ Dang! Kuhabiskan 30 menit bermeditasi dan mikir. Pake alasan apa dong aku supaya ga usah main ke kantornya dia? Hmmm, kalo aku minta pendapat Suamiku, pasti dia suruh aku ke kantornya Maura. Lantas ku-SMS dan email si Marwan tapi tak ada balasan dan YM-nya mati lampu. Dia pasti lagi ga di kantor.

Aku langsung memutuskan untuk mengirim pesan SOS pada si inginbercerita alias Mbak Wigati, melalui BBM.

Photobucket

Jhanty : mbaWig!!
Wigati : hmmm ….
Jhanty : sibuk?
Wigati : jam kantor, darling. What’s up?
Jhanty : that b*tch smsed me just now.
Wigati : and??

~ Oh well, I had to told her the story in a brief, secara si Mbak suka sensi kalo diganggu pas jam kantor. Dan saran dari Mbak Wig adalah:

Wigati : the options are ask her OB to pick up the sample (jaraknya gak terlalu jauh memang) or ask someone or even yourself tanpa ketemu. Just drop it.

Jhanty : hmmmm …. Gimana ya??
Wigati : you might come up with a better solution, dear. Mbakmu suka jam goblok kalo pas jam kerja gini.

~ Bismillah. Bismillah. Bismillah. Kukuatkan hatiku, mohon pencerahan dari-NYA sebelum akhirnya kubalas SMS Maura:

Aku :
Masih ngantor di Pangsud kan? Ya ntar aku mampir sebentar.

~ Maksudku: Jalan Panglima Sudirman Sudirman, daerah perkantoran di Surabaya. By the way, years ago, kawasan pinggir jalan Pangsud ini terkenal akan koleksi ‘ayam’nya…..if you know what I mean.

Maura :
Oh is this mean that we’re gonna have lunch together? Yay! Ok I’ll wait for you at 12 okay? Aku udah nge-YM si Renata barusan, kalo hari ini jadi ketemuan jam 12.

~ o ow. Berasa ada alarm tanda bahaya berbunyi di kepalaku. Renata?? That ‘Renata’??

Aku :
Maura, eh ini Renata siapa ya?

Maura :
Kamu lupa? Renata senior-mu di kampus dulu itu loh! Anak angkatanku yang dulu rambut panjangnya di-cat merah. Masak kamu lupa? Kita bertiga pernah sekelas kan?

~ Kill. Me. Now. Somebody. Please??!

Aku :
Oh ya. Ya tentu aku masih ingat Renata yang mana. Eh tapi aku mampir doang lho! Ga ikutan lunch deh ya, keburu ujan. Oke sampai ketemu ya!

~ Argghhhhhh! Marwaaaaaan! Kau benar! The ghost(s) from the past are haunting me now at the present. Ini sih namanya triple blastsss from the past!

Bagaimana cerita selanjutnya? Well akhirnya aku terpaksa bergabung dalam acara makan siang (saat dimana rasanya chicken teriyaki-ku, berasa mirip jantung ayam mentah!) bersama Maura dan Renata siang tadi. Ah ntar lagi deh ngetiknya! I need to design pesenannya Renata nih!

Write again later :-*

Tante Antagonis

January 13, 2010

“Kamu itu mbok ya sekali-kali keluar rumah. Atau paling nggak ya keluar kamar! Kok sukanya di kamaaaaar terus! Apa nggak bosen to? Kuper kamu nanti! Sudahlah nggak kerja, nggak pernah keluar kamar,”

PLEASE DEH. It was 6 am in the morning and I have to listen to that woman, talking like that to me? Right in front of me? Oh dear God, I wish I could just disappear. Or let her stab me from the back, I dont care.

Fiuh… gini deh nasip-nya tinggal menumpang, belum bisa mandiri sendiri hidup berdua aja sama Suami.

Itu tadi pagi yang mengomel, adalah tante-nya Suamiku.  Tante Juwana, namanya. ‘Bulek’ kalo orang Jawa bilang. Adik dari Ibu Mertua.

Suamiku anak terakhir dari 5 bersaudara, dan sejak SMP memang sudah di-pek anak alias dianggep anak sama Tante-nya. Bapak-Ibu Mertua-ku tinggal di Kediri, sekitar 5 jam dari Surabaya. Dan Suami sudah tinggal bersama Tante-nya ini sejak dia SMP.

Sampai sekarang setelah menikah juga, Suamiku memutuskan untuk mengajakku tinggal disini karena kasihan sama Tante yang tinggal sendirian tanpa anak dan sudah ditinggal meninggal sama Oom sejak 5 tahun yang lalu.

“Aku ingin menikahi-mu, tapi aku ragu apakah kau mau tinggal denganku dan TANTE setelah kita menikah,” begitu kata Suami saat melamarku 3 tahun yang lalu.

Saat itu aku sudah beberapa kali bertemu Tante-nya, bahkan sebelum bertemu kedua orang-tuanya. Ya kan yang tinggal se-kota di Surabaya, Tante-nya saja.

“Wah Adam, cantik ya pacar-mu? Aduh Nak, kamu kok mau sih sama Adam? Dia ini item begini lho, hehehe,”

ini adalah kalimat manis yang pertama kali diucapkan Tante Juwana padaku. I was impressed with our first meeting at her house, demikian pula pertemuan kedua (makan siang bertiga di hari Minggu), dan pertemuan ketiga (saat mempersiapkan pernikahan, aku mengajak Tante ke JMP untuk memilihkan kain seragam untuk pihak keluarga calon Suami).

Ketiga pertemuan itu berjalan lancar. Ya mungkin karena pada saat itu paling lama kami hanya bersua 3-4 jam saja. Beda dong dengan setelah menikah yang tinggal bersama dirumah Tante.

“Jhanty, nggak apa-apa kan menemani Tante dirumah ini? Tolong ya Jhanty, Tante sudah nggak punya siapa-siapa lagi kecuali Adam di Surabaya ini,”

And I was like, OK. How bad can it be? Tante sosok orang tua yang menyenangkan. Beliau berselera dan berjiwa muda kok, mungkin karena bekerja sebagai Dosen jur. Ekonomi di sebuah PTS, membuat beliau senantiasa berinteraksi dengan anak muda.

Sebulan dua bulan tiga bulan, sampai enam bulan pertama sih tidak pernah ada masalah diantara kami bertiga. Begitu memasuki bulan ke-tujuh, wow mulai deh. Reseh-resehnya Tante Juwana keluaaaaarrrr semuaaaaaa!

“Ini lho Adam, istri-mu ini loh kok setiap pagi gak pernah keliatan bersih-bersih dirumah? Sampek malu tante, tiap pagi tante yang sapu teras dan halaman. Jadi bahan omongan tetangga, kenapa kok tante yang mengerjakan kerjaan seperti ini? Padahal tante masih harus berangkat mengajar jam 7 pagi,”

“Jhanty masakanmu ini lho, sudah kamu bumbui apa belum sih? Sudah kamu kasih garam belum? Rasanya kok anyep begini (anyep = hambar)? Apa sekarang seleranya Adam sudah berubah? Kok dia dulu setahu Tante suka sama masakan yang gurih?”

“Baju-mu itu loh Jhan, kok kayak gak pernah ganti? Itu-itu terus yang dipakai?? uang dari Suami-mu itu kamu pakai apa saja sih? Perhiasan ya gak nambah, tas-sepatu juga itu-itu saja?”

“Makanya kamu itu bekerja! Supaya tau kehidupan dunia luar itu seperti apa! Jangan ngendon saja dirumah! Apa kamu gak bosan? Tante saja setiap weekend bosan dirumah, inginnya lekas Senin supaya bisa ke Kampus lagi,”

dan seterusnya dan sebagainya.

Dulu sih hampir setiap hari aku menangis tiap habis diomelin. Sekarang walo masih saja jengkel setengah hidup, tapi sudah gak pernah mewek lagi. Capek!