Ugly duckling on her scooter

January 22, 2010

So yesterday I had a lunch with Maura and Renata.

What did we eat? Okay, the main menu was ME. Yes, me. The unfortunate Jhanty, yang demi kebulan asap dapur, merelakan dirinya menjadi bulan-bulanan dua wanita cantik itu kemaren siang.

Tolong jangan bayangkan aku tidur di atas nampan besar, tangan diikat, badan diolesi minyak sayur+ kaldu dan mulut disumpel pake apel, lalu mereka berdua mengiris dagingku sedikit demi sedikit.

Tidak seburuk itu kok. Lupakan paragraf pertama diatas. Sungguh tidak seburuk itu, well at least aku akhirnya berhasil mendapatkan kesepakatan bisnis dengan Renata! Yay!! Produkku dipesan oleh calon mempelai yang cantik itu (i hate to admit it, but yes, she still looks good with her curly shiny red hair. but the hair color is fake, by the way!).

50 gelang sebagai souvenir akad nikah, plus 30 gantungan kunci sebagai souvenir pengajian!! Yaaaayyy!!Alhamdulillah, lumayan banget meski karena pesanan borongan jadi ambil untung per-piece-nya ga banyak. Tapi 80 pieces kan lumayan!

anyway busway, here’s the detail of the yesterday lunch :

Photobucket

Pukul 12 pas aku tiba di gedung perkantoran tempat Maura bekerja. Kondisi? Basah kuyub karena kehujanan. I was not on my best appearance. Well actually I never was on my best appearance everytime I met Maura. Grrrrr….. Kayak tikus abis kejebur got, deh, penampilanku!

Aku :
Maura, aku sudah diparkiran. Mo naik ke kantormu tapi aku lupa lantai berapa.

Maura :
So you’re here already? Wow, on time banget! Iya iya, lantai 5 yaaa.

Aku :
okay. I’ll go the rest room first.

~ Untungnya aku sudah mempersiapkan diriku untuk kondisi basah kuyub seperti ini, jadi aku membawa celana jeans ganti dan kemeja bersih yang terasa begitu hangat. Jas hujan bodoh-ku itu ntah mengapa, tidak begitu ampuh membentengi diriku dari air hujan!

BB-ku berbunyi, BBM dari Mbak Wig:

Wigati : piye nduk? Wes nang TKP?
Jhanty : qiqiqi… sampun buk’e. sialnya aku tadi kehujanan, jadi bener-bener sedang tidak dalam penampilan terbaik-ku 😦
Wigati : wes ra po-po. good luck ya! :-*

Photobucket

Ketika tiba di depan pintu masuk kantornya, ternyata Maura sudah berdiri di depan. She looked really chic dengan penampilan sekretaris-nya itu. Kumplit dengan high-heels 7 centi yang tidak akan pernah mampu kupakai.

“Jhanty! Hello darla! You look like mess, what happened?” khas Maura, selalu bisa membuat orang merasa minder saat berada didekatnya.

Aku meraba wajahku yang ternyata sungguh berminyak. Aku lupa ga touch-up make-up dengan bedak dan lipstik!! Awww… sekarang wajahku pliket karena air hujan!

“Aku tadi kehujanan,” sahutku dengan senyum hambar.
“Ow? Emangnya kamu parkir mobil dimana kok bisa kehujanan?”
“Aku nyetir motor kok,”
“Oh ya ya? Sorry darla, I forgot that you havent got any car yet,”
Maura memberikan senyum manis sejuta makna yang membuatku terpaksa senyum kembali padanya sambil menggigit bibir. Gemas aku!

Maura menggandengku kearah sebuah ruangan yang pertama kukira adalah ruangan meeting, tapi setelah melihat ada dispenser dan kulkas disana, kusimpulkan itu adalah ruang makan.

“Renata will be here any minute! Tadi dia ke TP (Tunjungan Plaza) sebentar, mo ngepas cincin berlian-nya sih, katanya,” saat mengucapkan hal itu, bisa kulihat Maura melirik kearah cincin kawinku. Eh ini juga berlian ya, gebleg! Meskipun belinya di Pasar Atom!

Aku menarik napas panjang, “Oke, ini contoh produk dan foto-foto produk yang sudah laku. Bilang aja ke Renata supaya membawanya dulu, kalo ada pertanyaan bisa SMS aku, telpon, atau YM. Dan ga usah sungkan kalo akhirnya ga jadi pesen. That’s fine,” oke great, now can I go out from here?

“Lho, kamu mau kemana? Tunggu Renata dulu dong, Jhan… Kita makan siang dulu ya? Aku sudah pesankan chicken teriyaki untukmu nih,” Maura mengambil setumpuk kotak styrofoam berlogo restaurant fast-food Jepang terkenal, “Kita bertiga makan siang bareng yaaa… Mumpung kantorku lagi sepi nih!”

Hmmm? Iya juga, kantornya nampak lengang, “Pada kemana pegawai yang lain?” tanyaku.
“Oh mereka makan siang di Delta Plaza, salah satu Manajer ada yang ulang-tahun. Aku ga ikutan coz aku nunggu kiriman paket dari luar kota buat si boss. Biasanya datang antara jam 11 sampai jam 1 siang sih,”

Aku manggut-manggut sambil menata contoh produkku di meja makan. Tak lama BB-nya Maura berbunyi, and I recognized the ringtone as notifier_crystal.

“Bentar ya Jhan, duduk dulu aja. Aku mo jemput Renata di depan,” mataku membelalak, oh no she’s here. Ya Tuhan, jangan biarkan makan siang ini menjadi makan siang petaka.

“Halo Jhantyyyy! Apa kabar Jeng? Duh, bener ya kata Maura! Kamu gendutan sekarang! Hamil yaaaa?” Renata menyodorkan pipi-nya untuk ritual cipika-cipiki yang terpaksa kuterima.
“Nggak lagi hamil kok Ren,” aku berusaha tersenyum ramah.

Sabar… sabar… ini potential customer, aku kudu sabaaaarrr…..

“Lho kok belum hamil sih? Udah lama nikah kaaaan?” Renata menatapku heran.
“Jhanty bilang dia gendutan karena hidupnya bahagia, hihihi,” Maura terkikik, suaranya membuatku merinding dan seolah mendorongku untuk membaca Ayat Kursi.
“Oh, so marriage satisfy you this much yaaa?” Renata ikutan cekikikan sambil meremas lenganku yang gemuk.

Dia membuka blazer abu-abunya dan ternyata dia memakai kemeja tanpa lengan yang memamerkan, dear God, lengannya yang kurus dan seputih dinding kantor Maura. Arggghhh…. Look at them! They look so chic and modern in their office attire along with their Zara or Mango bag….sementara akuuuuu? Bandingkan flatshoes dengan high-heels ya…

“Jadi ini produkmu?” Renata memecah lamunanku sambil memegang-megang deretan gelang yang terbungkus kemasan plastik.
“Iya, coba pilih aja kamu mau yang model apa dan warna apa, contoh warna bisa dilihat di album foto,”
“Jhanty ini dulu kerjasama sama butik tante-nya di Sutos lho! Dia stok aksesori kesana! Hebat ya?” aku terperangah mendengar kalimat Maura barusan. Did she just give me a compliment?
Renata melihat label harga yang tergantung di salah satu gelang, “Eh iya, kayaknya aku pernah liat nih merk ini di bazaar di TP!”
Aku tersenyum, “Iya waktu itu aku emang ikutan bazaar, sekitar 2 bulan yang lalu!”
“Wow… Kamu pasti sibuk sekali ya? Apa ga terfikir untuk membuka toko sendiri?” Renata menatapku serius.
Gak lah, aku lebih suka kayak sekarang. Kerja dari rumah, kebanyakan nerima pesanan souvenir saja. Udah beberapa bulan ga stok barang buat butiknya tante Farika dulu, lagi lumayan rame nih pesanan souvenir. Kalung, gelang, gantungan kunci, gantungan HP. Tapi kebanyakan gelang sih,” jelasku.

“Oh ya ampun! Aku inget sekarang! Minggu lalu aku ke acara Siraman sepupu-nya pacarku didaerah Kendangsari, trus aku liat gelang yang mirip yang ini. Aku dapet yang warna ungu!” seru Renata sambil memegang gelang berwarna hijau.
“Hehehe, iya, Tante S ya yang punya hajat? Iya mereka pesen di aku 50 buah,”
“Kamu punya asisten?” tanya Maura.
“Ada satu orang mahasiswa yang tinggal disebelah rumah, tapi kerjanya cuma berdasar pesanan aja. Kalo pas pesanan lagi banyak dan butuh cepet, ya aku pakai jasa dia. Kalo masih bisa aku handle sendiri, ya aku kerjakan sendiri aja,” Renata dan Maura manggut-manggut.

For the very first time yesterday, I believed that they put a respect on me. But happiness didnt take a long time,

“Ren, kamu tadi nyetir sendiri ke TP?” tanya Maura mengalihkan pembicaraan.

Photobucket

“Gak, aku pake supir. Jazz-ku masuk bengkel nih! Abis nabrak malam minggu kemaren kan? Aku sudah cerita,” Renata merengut. Merengut aja masih tetep keliatan cantik lo Ren!
“Ya ampun emang nabraknya parah banget ya?”
“Kamu abis kecelakaan, Ren?” tanyaku.

Photobucket

“Iya, malam minggu pulang dari Blowfish, tunanganku agak-agak kebanyakan minum kali yaa? Trus nabrak pembatas jalan deket rumahku!” Renata cekikikan. Gah, mabuk kok dianggap lucu sih?
“Yaelah, gue kira lo becanda waktu BBM gue subuh-subuh, ngabarin kalo lo abis kecelakaan!”

dor, keluar deh betawian lo-gue-lo-gue-nya. keturunan ondel-ondel kali ni anak berdua ya?

Photobucket

“Gila kali lo, mesti liat deh mobil gue kayak apa sekarang! Apes deh, gue sekarang kemana-mana dianter supirnya nyokap! Naik A140-nya,” kenapa pas nyebutin mobil mama-nya yang Mercy A140 itu Renata memandang kearah gue eh aku sambil tersenyum tipis ya?
“Ih, dulu kan gue ditawarin bokap buat pake A140 tapi gue ogah ah. Daripada Mercy bekas, mending beli Jazz baru lah!” Maura menyibakkan rambut panjangnya.
“Ya eyyalah bok!” sahut Renata.

ngek-ngok.

“Eh lo gak pake motor pembokat lo itu aja? Lo bilang kalo ke pasar sekarang, tu si Inem lo tuh gaya pake matic? Hehehe….” Maura ketawa kecil. Tawa yang menyebalkan no matter how good she looked with that terracota glossy lipstick.

Photobucket

“Gile kali yaaaaa, naik motooooor? Duh pelase dong ah! Yah, sia-sia dong gue facial di Erha kalo bawaannya trus naik motor!” sahut Renata diikuti tawa berderai.

Aku cuma bisa senyum asem. Sabar buuuuukkk…!

Photobucket

“Eh kunci motor kamu ini, gantungan kuncinya bikin sendiri kan?” senyum Maura sambil menyerahkan kunci motorku yang ntah mengapa ada di dia??!
“Eh, kok ada di kamu?” tanyaku, kaget bercampur kesel.
“Tadi jatuh di depan, pasti kamu gak sadar,” Maura menatapku dengan pandangan yang……membuatku ingin menancapkan sumpit kemata-nya. Halah, sadis amat!
“Oh………………” Renata menatapku, “Jadi kamu naik motor? Ih, ujan-ujan gini?”
“Beli mobil dong Jhan, minta sama Suami-mu! kan bisa dipake gantian! Beli aja apa kek gitu, avanza atau xenia, kan murah tuh!” Maura tersenyum simpul sambil membagikan kotak styrofoam makan siang kami, satu persatu.

See? Ini adalah sebabnya aku gak mau makan siang sama mereka! I knew it will end this way!! Kampret!

Advertisements

14 Responses to “Ugly duckling on her scooter”

  1. marwan limantara said

    hehehe well my dear Jhianty, life is bitch as well as them!They are able to own all the things that money can buy but they don’t have such a great friends who love you just the way you’re and make you feel comfort to be yourself (or embarrassing yourself)hahaha.

  2. jhanty said

    ya ampun ya Ko… i just hate them!

    oh well, ga segitunya juga sih, coz Allah kasih aku rejeki juga lewat mereka, hahaha..

    but havent you read those words they said to me? ihhhh… sok banget deh!!

  3. Arman said

    ngurut dada dah dengerinnya….
    tapi ya tahan2in dengerin, yang penting dapet orderan ya… hehe.

    salam kenal balik ya!

  4. desde_mona said

    lagian kamu kenapa sih kok masih blom bisa nyetir mobil juga? kan mobilnya bisa pake gantian sama suami? SIM A-mu itu keburu kadaluarsa!

    ***kiss kiss love love

  5. marwan limantara said

    kapan2 kita tubruk mereka pake traktor yuk hehehe *seringai iblis*

  6. omg, I was landed here because you are commenting on my blog. And thank God I found you, your story is great. I hate to say this but I always love bitch character in real life like R and M. definitely your follower now!!

    LOVE!!

  7. Saya juga dulu sempet bertahun-tahun jadi biker, emg ada yg salah ya dgn naik sapida motor? Astaga itu mulut temennya bener” minta dilakban!!

  8. jhanty said

    ++ arman : makasih pak, aku emang bisanya cuma ngurut dada. Between cursing and feeling grateful lah 😉

    ++ desdemona : duh monceeee… Aku tuh benernya udah bisa kok nyetir mobil. Dr rumah sampe ruko depan kompleks!

    ++ marwan : traktor mah jalannya lambat! Kita tubruk pake vespa aku aja, gimana? Hahaha…

    ++ anastasya adi : aduh makasih, loh kamu jd ngefans sama Maura & Renata sih? Hehehe… Kalo cuma bitchy-girls mah, I have several on my side +ngelirik mona dan andre+ plus the male-bitch if you want more!! +lirik marwan+

    ++ tyka ndutyke : mo nyumbang lakbannya ga nih, stok lagi abis nih! :))

  9. marwan limantara said

    boleh, asalkan bisa melihat bergelimpangan darah hahahaha (sado mode on)

  10. marwan limantara said

    eh makasih sdh menobatkanku menjadi the male bitch, berasa kayak pembunuh yang siap memutilasi korbannya aja hahahahah

  11. jhanty said

    Maaf, that’s the best nickname I could think of! Hahaha…. Eh Ko,…. Kamu itu sebenarnya male beyatch apa S&M Freak sih?

  12. marwan limantara said

    ehmm…tergantung pesenan pelanggan, maunya pake gaya yang mana. tapi biasanya yang lebih disukai yangmale beyatch HUHAHAHAHAHA *sinting*

  13. jhanty said

    Huehehehe, sinting! Sudah sudah hentikan percakapan tak pantas seperti ini. Ntar klo ada anak dibawah umur semacam murid SMP-nya Monce mampir kemari, trs dia baca komentar kita dan tanya ke guru Bahasa Enggreish-nya: “Ma’am, what’s the meaning of ‘male beyatch’?” Kan gawat bok!

    Hahaha….

  14. Andreina said

    To Jhanty & Marwan : Mulut kalian berdua itu memang sungguh tidak kudus! :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: